Figur 1.3 di atas memperlihatkan sejak dari penciptaan nilai ekspresif dilindungi hak cipta, industri budaya menghasilkan reproduksi massal berbasis hak cipta, industri kreatif memanfaatkan nilai ekspresif yang dilindungi hak cipta, dan ekonomi kreatif (ekonomi baru) adalah manufaktur dan jasa menerima manfaat dari nilai ekspresif industri kreatif yang dilindungi hak cipta.

Deskripsi dari konsep definisi dan istilah sangat berperan penting  dalam menentukan identitas dan ruang lingkup suatu usaha atau kegiatan. 

Di bawah ini disajikan konsep definisi dan istilah secara umum:

a. Ekonomi kreatif didefinisikan sebagai “penciptakan nilai tambah berbasis ide yang lahir dari kreativitas sumber daya manusia (orang kreatif) dan berbasis pemanfaatan ilmu pengetahuan, termasuk warisan budaya dan teknologi”. (Sumber: Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025).

b. Industri kreatif adalah industri yang menghasilkan output dari pemanfaatan kreativas, keahlian dan bakat individu untuk penciptakan nilai tambah, lapangan pekerjaan dan peningkatan kualitas hidup.

c. Ekonomi kreatif memiliki cakupan yang lebih luas dari industri kreatif.

d. Industri kreatif merupakan bagian atau subsistem dari ekonomi kreatif.

e. Kreativitas yang didefinisikan sebagai kapasitas atau kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang unik, menciptakan solusi dari suatu masalah atau melakukan sesuatu yang berbeda. Kreativitas merupakan faktor yang menggerakan lahirnya inovasi dengan memanfaatkan penemuan yang sudah ada.

Sumber:
Buku 2 Laporan Analisis Hasil Kegiatan Laporan Analisis Klasifikasi Aktivitas Ekraf dalam KBLI 2015, kerja sama BPS dan Bekraf.

Mengapa industri kreatif sebagai subsistem ekonomi kreatif harus berbasis kekayaan intelektual?

1. Tidak satu pun konsep, definisi, dan istilah tersebut di atas menyebutkan industri kreatif sebagai subsistem ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual, yang menjadi dasar pelindungan kekayaan intelektual, pengembangan produk dan jasa yang dilindungi kekayaan intelektual, dan pemasaran produk barang dan jasa berbasis kekayaan intelektual.

Ekonomi kreatif memiliki nilai komersial dan nilai budaya. Pengakuan atas nilai ganda tersebut telah menyebabkan pemerintah di seluruh dunia memperluas dan mengembangkan ekonomi kreatif mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi dan upaya untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, dan kesejahteraan (Mukhisa Kituyi Secretary-General of UNCTAD, 2018).

Ekonomi kreatif diasuh secara memadai, kreativitas mendorong budaya, berpusat pada pengembangan sumber daya insani, merupakan bahan baku untuk menciptakan lapangan kerja, inovasi dan perdagangan, disamping berkontribusi pada inklusi sosial, keberagaman budaya, dan lingkungan berkelanjutan (UNCTAD).

Industri kreatif adalah industri yang berasal dari kreativitas, keahlian, bakat individu, yang potensial menciptakan lapangan kerja dan kemakmuran melalui eksploitasi kekayaan industri (Industrial Property) dan konten (UK, Creative Industries Task Force, 1998)

2. KBLI 2015 mengelompokan unit produksi menjadi industri kreatif yang menghasilkan produk barang dan jasa, tidak membedakan produk barang dan jasa yang telah dilindungi kekayaan intelektual dengan produk barang dan jasa yang tidak dilindungi kekayaan intelektual.

3. Nilai tambah ekonomi kreatif dihasilkan dari eksploitasi kekayaan industri dan konten (hak cipta, hak paten, hak desain industri, dan hak merek) dari produk barang dan jasa kreatif, misalnya, bisnis industri kreatif yang dikelola sendiri (studio/ ruang kreatif: televisi/ radio/ seni/ arsitektur/ musik/ film/ desainer/ arsitek mengelola program televisi/ radio sendiri, ruang pertunjukan sendiri, pameran sendiri, bioskop indie sendiri, blog sendiri, video sendiri, panggung sendiri, toko sendiri, rumah makan sendiri), bisnis waralaba (rumah makan, karaoke, permainan interaktif, jasa perjalanan, jasa pendidikan, jasa pengiriman barang), bisnis lisensi (software, aplikasi, penerbitan, program televisi, desain, iklan, fotografi, seni pertunjukan, film, video, animasi, produk cinderamata, program hiburan, musik), bisnis manufaktur (produk kreatif yang dihasilkan tenaga mesin, komputer/ robotik, tenaga manusia), bisnis ecommerce (website, marketplace, media sosial, pesan instan)., dan bisnis jasa kreatif (desainer, arsitek, penulis, artisan, perupa, pencipta lagu, komposer, fotografer, kamerawan, sutradara, pembuat film, video dan animasi, artis, pengembang permainan, programmer, konsultan, pendidik, pelatih, mentor, coach, pembelanja, pemasar, penjual, pramuwisata, pengantar barang, pembayaran non-tunai dan sebagainya)

Related Posts

Creative Economy

Skenario Terbaik dan Terburuk

Merencanakan keberhasilan (skenario terbaik) lebih baik daripada merencanakan kegagalan (skenario terburuk). Merencanakan keberhasilan dengan menetapkan target optimis, sedangkan merencanakan kegagalan dengan menetapkan target pesimis. Bobot perencanaan dalam Balanced Scorecard sebesar 20% dalam pencapaian target, bobot Read more…

Art and Culture

10 Perbedaan antara Startup dengan UMKM

Oleh Melisa Marzett*) Jika Anda pernah bekerja di bidang teknologi atau terbiasa dengannya, kemungkinan besar Anda mengenal pengusaha yang meluncurkan Startup baru tanpa henti. Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri apa sebenarnya Startup itu? Apakah Read more…

Art and Culture

Tren Global 2045

Kehidupan kita dan dunia tempat kita tinggal hampir pasti akan berubah selama 30 tahun ke depan, dengan dampak yang dirasakan oleh semua orang. Kami mungkin akan hidup lebih lama dan tahu lebih banyak. Pada tahun Read more…