Bunga Kamboja

Wisata islami adalah istilah khusus yang merujuk pada aktivitas wisata religius islami.

Demi masa,
Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (QS. Al-Asr: ayat 1-3)

Wisata islami adalah aktivitas wisata religius islami yang bertujuan untuk mendapatkan karunia dan rahmat Alloh.

Bagi umat Islam, wisata religius islami dengan mengunjungi masjid al haram di Makkah (ibadah haji dan/ atau umroh), masjid nabawi (madinah), dan masjidil al aqsho (Palestina).

Sebagaimana sabda Rosulullooh Sholalloohu’alaihi wasallam:

“Tidak boleh mengadakan perjalanan/ safar kecuali menuju ke tiga masjid, yaitu Masjid al Haram, masjid ar Rosul shollalloohu alaihi wasallam, dan masjid al Aqsho.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bolehkah menikmati keindahan alam?

Menikmati keindahan dengan merenungi tanda-tanda kekuasaan Alloh.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Robb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali ‘Imron 3:190-191)

Bolehkah mengenal keberagaman budaya?

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Alloh Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Bolehkah berwisata untuk bersenang-senang?

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridhoan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadîd [57]: 20).

Sebagaimana sabda Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam:

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Bolehkah mengunjungi tempat-tempat yang kaumnya pernah diadzab oleh Alloh?

Umat Islam yang akan mengunjungi tempat-tempat yang pernah dihuni dan diadzab oleh Alloh, yaitu kaum Nabi Nuh (mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh, dilanda banjir besar yang menenggelamkan mereka); kaum Nabi Hud (mendustai nabi Hud, diadzab dengan angin kencang dan guruh yang menggelegar sehingga mereka tertimbun pasir); kaum Nabi Saleh (membunuh hewan larangan sehingga Alloh menimpakan adzab kepada mereka); kaum Nabi Luth (homoseksual, diadzab dengan gempa bumi dan angin kencang disertai dengan batu sehingga mereka tertimbun di rumah-rumah mereka); kaum Nabi Syuaib (suka menipu dan curang dalam berdagang, diadzab dengan hawa panas); Firaun (mengaku dirinya sebagai tuhan, tewas di laut merah, jasadnya dapat disaksikan di museum mumi di Mesir); Ashab Al-Sabt (melanggar larangan menangkap ikan di hari Sabtu, dilaknat dengan mengubah mereka menjadi kera); Ashab Al-Rass (kaum yang menyembah patung, mencampakkan utusan Alloh ke dalam sumur, mereka dibinasakan Alloh); Ashab Al-Ukhdudd (menolak beriman kepada Alloh, mereka dikutuk oleh Alloh); Ashab Al-Qoryah (mendustakan rosul-rosul sehingga Alloh memusnahkan mereka dengan suara yang sangat keras); Kaum Tubba’ (ingkar kepada Alloh, peradabannya maju, bendungan mereka hancur); kaum Saba (negeri yang subur dan makmur, enggan beribadah kepada Alloh, dilanda banjir besar karena bendungan Ma’rib hancur); harus dapat menangis dan menyegerakan langkahnya di tempat-tempat itu untuk menghindari adzab yang telah menimpa suatu kaum di tempat itu, yang diadzab oleh Alloh karena berbuat maksiat (melanggar perintah dan larangan Alloh).

Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian. (HR. Bukhori 433).

Bolehkah ziarah kubur?

Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Muhammad Bin ‘Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rosuulullooh Shollalloohu’alaihi Wasallam berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “Aku meminta izin kepada Robb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian” (HR. Muslim no.108, 2/671)

Bolehkah wisata belanja di pasar?

Rosuulullooh sholalloohu’ alaihi wa sallam suatu ketika pernah ditanya,
“Tempat apakah yang paling baik, dan tempat apakah yang paling buruk?” Beliau shollalloohu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya, dan Aku bertanya kepada Jibril tentang pertanyaan tadi, dia pun tidak mengetahuinya. Dan Aku bertanya kepada Mikail dan diapun menjawab:
Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.” (Shohih Ibnu Hibban)

Saat ini banyak pasar tradisional dan pasar modern yang dilengkapi dengan fasilitas masjid dan/atau musholla. Hanya saja, aktivitas di pasar lebih banyak daripada di masjid, tidak seperti di Makkah atau Madinah, pada saat mendengar suara adzan, aktivitas di pasar berhenti karena penjual dan pembelinya melakukan sholat wajib berjama’ah di masjid, sedangkan di tempat lain, pada saat mendengarkan suara adzan, semua aktivitas jual-beli di pasar masih terus berlangsung.

Bolehlah wisata kuliner di restoran yang tidak jelas halal atau haramnya?

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Alloh kepada kalian; dan syukurilah nikmat Alloh, jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah. Sesungguhnya Alloh hanya mengharamkan atas kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Alloh; tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta. “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih (QS. An-Nahl, ayat 114-117)

Walloohu a’lam bishshowwab

Diolah dari berbagai sumber.


0 thoughts on “Wisata Islami”

Leave a Reply

Related Posts

Arts

Tabik

Penggunaan salam Tabik sudah lama dikenal di berbagai daerah, antara lain di komunitas melayu pasar dengan ucapan “tabe.” Salam “tabe” juga digunakan di Lampung dan Bugis, Makassar, sedangkan di Minangkabau mempunyai arti yang berbeda, yaitu Read more…

Arts

Brand Image

Brand Image adalah kesan umum tentang suatu produk yang ada di pikiran wisatawan yang nyata atau pun wisatawan potensial. Branding destinasi Membangun branding destinasi pariwisata berkelas dunia, nasional, atau pun lokal tidaklah mudah, apalagi dalam Read more…

Arts

Pengelolaan Warisan Alam dan Budaya Dunia berbeda dengan Pengelolaan Warisan Budaya Hidup

Pengelolaan Warisan Alam dan Budaya Dunia berbeda dengan Pengelolaan Warisan Budaya Hidup Warisan budaya hidup (living heritage) atau warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) Komunitas adalah sekelompok orang, yang dalam beberapa kasus, hanya beberapa orang Read more…