# Note 01 Konten

  • Siapa pemangku kepentingan?
  • Peran Negara Pihak
  • Peran Komunitas
  • Peran LSM dan pemangku kepentingan lain
  • Ikhtisar aktivitas

# Note 02 Siapa pemangku kepentingan?

  • Pemangku kepentingan meliputi Negara Pihak, yang dalam hal ini Pemerintah Republik Indonesia.
  • Komunitas adalah kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; kelompok (sosial) adalah bagian dari komunitas yang tinggal di daerah tertentu; individu adalah seseorang yang merupakan bagian dari kelompok (sosial) yang tinggal di daerah tertentu.
  • LSM adalah kelompok sosial kemasyarakatan, peneliti, pusat kepakaran, dan lembaga penelitian.

# Note 03 Peran Negara Pihak

  • Membuat dasar hukum dan kebijakan pelindungan warisan budaya takbenda secara nasional
  • Mengidentifikasi, mendefinisikan, dan menginventarisasi unsur-unsur warisan budaya takbenda Indonesia.
  • Memastikan pelindungan warisan budaya takbenda saat ini di wilayahnya.
  • Meningkatkan kesadaran tentang warisan budaya takbenda.

# Note 04 Kewajiban dalam Konvensi 2003

  • Memastikan langkah-langkah pelindungan warisan budaya takbenda di wilayahnya (Artikel 11a).
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan warisan budaya takbenda dengan partisipasi dari komunitas, kelompok dan LSM yang relevan dengan unsur warisan budaya takbenda (Artikel 11b).
  • Menyusun dan memperbarui pencatatan warisan budaya takbenda (Artikel 12.1).

# Note 05 Rekomendasi dalam Konvensi

  • Mengadopsi kebijakan umum (Artikel  13a) yang bertujuan untuk mempromosikan fungsi warisan budaya takbenda di masyarakat dan mengintegrasikan pelindungan warisan budaya takbenda ke dalam perencanaan program.
  • Mendirikan atau menunjuk lembaga yang akan bertugas melaksanakan pelindungan warisan budaya takbenda (Artikel 13b).
  • Mengembangkan penelitian (Artikel 13c)
  • Memastikan akses yang tepat terhadap warisan budaya takbenda (Artikel 14a)
  • Memastikan partisipasi komunitas (Artikel 15)

# Note 06 Rekomendasi dalam Petunjuk Pelaksanaan

  • Mendirikan badan koordinasi dan jejaring kerja sama (Petunjuk Pelaksanaan/ PL 79-80 dan 86).
  • Melakukan pembangunan kapasitas dan meningkatkan kesadaran di komunitas  (PL 81-82)
  • Membuat sebuah direktori kepakaran (PL 83)
  • Memfasilitasi akses komunitas pada penelitian (PL 85).

# Note 07 Rekomendasi lebih lanjut tentang Petunjuk Pelaksanaan

  • Mengadopsi kode etik yang sesuai dengan ketentuan Konvensi 2003 (PL 103).
  • Mengimplementasikan proteksi hukum secara tepat bagi komunitas (PL 104).
  • Menyebarluaskan informasi kepada publik tentang pentingnya dan ancaman terhadap warisana budaya takbenda, dan langkah-langkah yang dilakukan (PL 105).
  • Mempromosikan praktik-praktik pelindungan yang terbaik (PL 106).
  • Mendukung pendidikan formal dan non-formal tentang warisan budaya takbenda (PL 107).

# Note 08 Peran Negara Pihak di Tingkat Internasional

Kewajiban:

  • Membuat laporan kepada Komite (RL setiap 6 tahun, sedangkan USL setiap 4 tahun).
  • Membayar kontribusi untuk Dana Warisan Budaya Takbenda setiap 2 tahun yang besarnya ditetapkan dalam Sidang Umum (Artikel 26.1).

Hak lainnya:

  • Berpartisipasi di Badan-badan Konvensi, seperti Sidang Umum (General Assembly & Intergovernmental Committee) (Artikel 4-5).
  • Pertukaran internasional dan kerja sama, misalnya pertukaran pengalaman dan informasi, inisiatif bersama, kerja sama bilateral, subregional, regional, dan internasional (Artikel 19).
  • Mengajukan bantuan internasional (Artikel 23).
  • Mengusulkan berkas nominasi warisan budaya takbenda (Artikel 16-18).

# Note 09 Rekomendasi lanjutan dalam Petunjukan Pelaksanaan

Negara Pihak dapat bekerja sama dengan Negara Pihak lainnya:

  • dengan mengembangkan jejaring komunitas regional dan kepakaran untuk pelindungan warisan budaya yang dimiliki bersama (PL 86);
  • berbagi dokumentasi dengan pihak lainnya (PL 87).
  • Terlibat dalam kerja sama regional, misalnya melalui category 2 centres, misalnya di Jepang, China, dan Korea (PL 88) dan tentang warisan budaya takbenda yang dimiliki bersama.

# Note 10 Peran Komunitas (1)

Negara Pihak harus melibatkan kommunitas, kelompok, dan individu yang bersangkutan dalam:

  • mengidentifikasi dan mendefinisikan warisan budaya takbenda (artikel 11b);
  • menginventori warisan budaya takbenda mereka (PL 80b);
  • menyiapkan nominasi ke dalam daftar dan register (PL 1, 2, dan 7)
  • membangun dan mengimplementasikan rencana-rencana pelindungan untuk waisan budaya takbenda (artikel 15);
  • berbagai aktivitas untuk meningkatkan kesadaran terhadap warisan budaya takbenda (PL 101b).

# Note 11 Peran Komunitas (2)

Berbagai Komunitas, kelompok, dan individu terlibat dalam pelindungan warisan budaya takbenda mereka melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  • identifikasi
  • inventori
  • dokumentasi
  • penelitian
  • revitalisasi
  • memastikan akses di tempat-tempat dan bahan-bahan yang terkat dengan warisan budaya takbenda
  • transmisi melalui pendidikan
  • meningkatkan kesadaran

dengan bantuan badan-badan lain, bila diperlukan.

# Note 12 Saran-saran dalam Petunjuk Pelaksanaan

Berbagai komunitas, kelompok, individu yang bersangkutan harus berani:

  • membangun jejaring dengan berbagai komunitas lain (PL 79-86);
  • jejaring dengan ahli, pusat penelitian, LSM dll (PL 79-86);
  • kapasitas mereka diperkuat, bila diperlukan (PL 82)
  • pusat-pusat komunitas dan asosiasi-asosiasi (PL 108);

yang akan membantu mereka dalam pelindungan warisan budaya takbenda mereka.

# Note 13 Peran LSM dan Organisasi-organisasi lainnya: peran-peran yang dimungkinkan di tingkat nasional (1)

  • Meningkatkan kesadaran tentang waisan budaya takbenda (PL 109);
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan (PL 90).
  • Menginventori (PL 80)
  • Pelindungan (PL 90)
  • Penelitian (artikel 13c & PL 83).
  • Menyiapkan berkas nominasi (PL 96a).
  • Kolaborasi dan jejaring (PL 79 dan 86).
  • Pelatihan dalam pengelolaan warisan budaya takbenda dan pelindugan (PL 107).

# Note 14 Peran LSM dan Organisasi-organisasi lainnya: peran-peran yang dimungkinkan di tingkat nasional (2)

  • Beberapa peran khusus yang dilaksanakan oleh LSM yang terakreditasi dan para ahli individual (PL 26).
  • Seluruh LSM, ahli dan pusat-pusat kepakaran, lembaga-lembaga penelitian, dll dapat terlibat dalam jejaring internasional, kerja sama dan pertukaran dan boleh diundang pada rapat Komite untuk konsultasi (Artikel 8.4).

# Note 15 Akreditasi LSM

  • Sidang Umum telah mengakreditasi lebih dari 156 LSM sesuai Artikel 9 Konvensi.
  • Akreditasi LSM boleh diminta untuk membantu mengevaluasi nominasi dan permintaan bantuan dalam kerangka Badan Konsultatif (Consultative Body) (PL 26).

Website LSM dapat dilihat di

http://www.ichngoforum.org

Facilitator ICH-UNESCO:

https://ich.unesco.org/en/facilitator

Mr WALUYO Harry Residence: Indonesia

Working language(s): English, Indonesian

Trained in: 01-2011, Beijing

Mr Harry Waluyo is presently the Secretary for Body of Resource Development in the Ministry of Tourism and Creative Economy of the Republic of Indonesia. He holds a degree in anthropology and history and has delivered talks on intangible cultural heritage inventories and the experience of Indonesia in managing this heritage in several international forums.

Work experience in: Indonesia


0 thoughts on “The Who Can Do What in Managing Intangible Cultural Heritage – UNESCO”

Leave a Reply

Related Posts

Arts

Sepasang Sepatu

1. Bentuknya tidak persis sama, namun serasi. 2. Saat berjalan mempunyai gaya yang berbeda, tetapi tujuannya sama. 3. Tidak pernah berganti posisi, namun saling melengkapi. 4. Tidak pernah berganti pasangan, walaupun pasangannya sudah terlihat usang. Read more…

Arts

Cara Menjual Sisir Kepada Orang Botak

Sebuah perusahaan membuat tes terhadap tiga calon staf penjual barunya. Tesnya unik, yaitu: menjual sisir di kompleks Biara Shaolin. Tentu saja, ini cukup unik karena para Biksu di sana semuanya gundul (botak) dan tidak membutuhkan Read more…

Arts

Melihat dengan Telinga dan Mendengar dengan Mata

Ada yang salah dengan judul artikel ini? Tidak, tidak ada yang salah, kalimat itu mengalir dari seorang penyanyi legendaris, si Burung Camar, siapa lagi kalau bukan Vina Panduwinata. Dalam satu perjalanan di dalam pesawat, saya Read more…