Produk Pariwisata dalam industri pariwisata lebih bersifat jasa atau layanan (services), yang tidak dapat dipindahkan, seperti barang, tetapi harus ditemui, baru layanan tersebut bekerja sesuai dengan fungsinya.

Medlik & Middleton, … “The product covers the complete experience from the time he leaves home to the time he returns to it.” Jadi, produk pariwisata merupakan satu kesatuan paket wisata, sejak wisatawan berangkat dari daerah atau negara asalnya ke tujuan wisata, sampai wisatawan kembali ke daerah atau negara asalnya.

Paket wisata yang ditawarkan untuk wisatawan yang berwisata secara berombongan (General inclusive Tourist/GIT) telah disusun dalam suatu jadwal perjalanan yang terperinci (package itinerary), yang dikelola oleh tour and travel agent, yang saat ini dapat dilakukan secara online (online travel agent/OTA).

Bagi wisatawan yang melakukan perjalanan secara perseorangan  (Foreign Individual Tourist/FIT), informasi perjalanan biasanya diperoleh secara online, misalnya melalui Trip Advisor. Selanjutnya, wisatawan akan menyusunan rencana perjalanan sesuai dengan minatnya.

Bagi pengelola destinasi pariwisata, strategi yang digunakan untuk menawarkan produk pariwisata di destinasi pariwisata menggunakan strategi komperatif, kompetitif, atau kooperatif. Strategi komperatif dipilih manakala produk pariwisata yang dimiliki suatu destinasi pariwisata sangat unik atau tidak ada duanya di destinasi lain, misalnya Taman Nasional Komodo, Borobudur, Tari Bali dsb. Strategi kompetitif dipilih manakala produk pariwisata yang ditawarkan ada kemiripan atau  kesamaan karena latar belakang geografis, sejarah, dan budaya, misalnya produk pariwisata yang ditawarkan oleh negara tetangga Malaysia, diperlukan inovasi dalam aspek manajemen dan teknologi untuk memenangkan persaingan. Strategi kooperatif dipilih manakala saling menguntungkan kedua belah pihak karena produk yang ditawarkan saling melengkapi satu dengan yang lain, misalnya promosi bersama dengan negara-negara ASEAN untuk saling mengunjungi di antara negara-negara ASEAN atau dalam rangka merebut pasar di luar negara-negara ASEAN, misalnya pasar China, Korea, Jepang, Australia, atau Eropa.

Strategi pemasaran pariwisata tersebut di atas perlu diperkuat dengan menggunakan teknologi digital dan non-digital. Teknologi digital sangat efektif untuk menyasar wisatawan usia muda yang gemar dengan perangkat teknologi yang mudah dibawa dan mudah digunakan dimana saja dan kapan saja, karena waktunya sangat sibuk dan ingin semuanya serba cepat, sentuhan humanisme tidak terlalu dipedulikan. Tetapi, bagi wisatawan yang berusia lanjut, sentuhan dengan menggunakan pendekatan humanisme (slow tourism) akan lebih efektif, misalnya sikap yang ramah, tutur kata yang halus, perilaku yang santun, senyuman yang tulus, akan memberi kesan yang mendalam bagi wisatawan (just a smile away).

Produk pariwisata dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu (1) daya tarik wisata (alam, budaya, dan buatan); (2) fasilitas (amenitas), misalnya akomodasi dan restoran serta konektivitas (transportasi) dari daerah atau negara asal wisatawan, ke destinasi pariwisata, dan di destinasi pariwisata.

Karena wisatawan lebih suka dengan layanan yang ramah, peningkatan gerakan sadar  wisata dan aksi sapta pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan) di destinasi pariwisata menjadi faktor yang sangat penting. Dengan kata lain, gerakan sadar wisata dan aksi sapta pesona di destinasi pariwisata sangat menentukan keberhasilan suatu destinasi pariwisata. Bukankah, suatu tempat, daerah, atau negara dikatakan sebagai destinasi pariwisata kalau dikunjungi wisatawan?

Jadi, keberhasilan suatu destinasi pariwisata tidak ditentukan berdasarkan jumlah wisatawan yang berkunjung di destinasi pariwisata, tetapi seberapa besar manfaat yang diterima oleh masyarakat di destinasi pariwisata, apakah  manfaat yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat atau manfaat yang dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Hal ini sejalan dengan pandangan mantan Sekretaris Jenderal UNWTO, Fransesco Frangialli (1997-2009).

Apalagi jika kita menggunakan  prinsip pemasaran pariwisata yang bertanggung jawab, faktor lingkungan alam yang berkelanjutan, faktor sosial-budaya, dan faktor ekonomi, menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Muaranya ada di sumber daya manusia. Dengan meningkatkan kemampuan manajemen dan inovasi teknologi, pariwisata Indonesia akan menjadi sumber energi baru yang tak akan pernah habis (terbarukan).

Dirgahayu ke-71 Republik Indonesia, 17 Agustus 2016


0 thoughts on “Sentuhan Humanisme dan Teknologi Digital”

Leave a Reply

Related Posts

Enactment

Menata Kehidupan Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat

Tujuh pilar kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat 1. Hukum berkepentingan dalam mengatur kehidupan berbangsa (deklarasi universal hak asasi manusia), bernegara (konstitusi), dan bermasyarakat (hak berbudaya dan beragama, dilindungi konstitusi). 2. Politik berkepentingan untuk meraih, mengelola, Read more…

Arts

Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Lembaga dunia yang menangani perdagangan dan pembangunan, UNCTAD (2013), percaya bahwa untuk meningkatkan kontribusi terhadap perdagangan dunia, perlu melakukan ‘leap-frog’ ke dalam penciptaan kemakmuran. Kekuatan baru yang dapat melakukan ‘leap-frog’ adalah ekonomi kreatif, yang diyakini Read more…

Sustainable Tourism

Bagaimana mengomunikasikan sebuah branding destinasi pariwisata?

Seri: Pemasaran dan Manajemen Destinasi Pariwisata Kata Kunci: Positioning (P) Image (I) Branding (B) Tujuan: Menawarkan produk dan layanan yang unik di sebuah destinasi pariwisata. TKD (Tata Kelola Destinasi) adalah kolaborasi dari unsur pemerintah, pemerintah Read more…