Tulisan tentang ruang budaya dan praktik sosial dimaksudkan agar kita menyadari keberadaan kita di tengah masyarakat multikuktur yang bernama Indonesia.

Saudaraku sebangsa dan setanah air

Pendekatan Proxemics

Konsep penataan dan penggunaan ruang intim, personal, sosial, dan publik (Edward T. Hall)

Batas Toleransi

Batas toleransi bagi kelompok etnis, agama, ras, dan golongan (SARA) dengan konsep penataan dan penggunaan ruang lokal, daerah, nasional, dan internasional.

Ruang Budaya

Ruang budaya lokal menggunakan pengetahuan budaya lokal. Ruang budaya daerah menggunakan pengetahuan budaya antarlokal. Ruang budaya nasional menggunakan pengetahuan budaya antardaerah. Ruang budaya internasional menggunakan pengetahuan budaya antarbangsa.

Pengetahuan budaya dan tujuannya

Seseorang dapat mempelajari pengetahuan budaya lokal, daerah, nasional, dan internasional. Dan, menggunakan pengetahuan budayanya secara selektif untuk mencapai tujuannya.

Praktik sosial

Seseorang dapat memilih pengetahuan budaya yang paling efektif untuk mencapai tujuannya. Misalnya, seseorang yang akan menikah dengan orang lain, dapat memilih ruang budaya yang sesuai adat yang berlaku.

Jika pasangan yang akan menikah berbeda adat istiadat, dapat menikah secara adat, sejauh hal itu tidak bertentangan dengan agamanya. Jika pasangan yang menikah berbeda agama, mereka harus memilih dengan agama apa mereka akan menikah.

Jika terjadi pertikaian secara adat, diselesaikan dengan adat. Jika terjadi pertikaian antarumat beragama, diselesaikan dengan hukum nasional. Jika terjadi pertikaian antarbangsa, diselesaikan dengan hukum internasional.

Jika memberi salam kepada orang yang memiliki adat istiadat yang sama, gunakan salam yang berlaku dalam lingkungan adat istiadat mereka. Jika memberi/ menjawab salam kepada orang yang seagama, gunakan salam yang berlaku dalam agama yang bersangkutan. Jika akan memberi salam kepada pemangku adat atau pemeluk agama yang berbeda-beda, gunakan salam nasional, misalnya selamat pagi, siang, sore, atau malam.

Jika mengucapkan terima kasih kepada orang lain, perhatikan ruang budaya yang berlaku.

Jika menggunakan busana di ruang budaya lokal, gunakan busana adat yang sesuai untuk ruang budaya lokal. Jika menggunakan busana di ruang budaya daerah, gunakan busana dari berbagai kelompok etnis di daerah yang bersangkutan.

Jika menggunakan busana di ruang budaya nasional, gunakan busana nasional (yang disepakati secara nasional, misalnya setelan baju duta besar untuk laki-laki; kebaya untuk perempuan). Jika menggunakan busana di ruang budaya internasional, gunakan busana internasional, misalnya setelan jas untuk laki-laki dan setelan formal untuk perempuan.

Jika berbicara dengan orang di ruang budaya lokal, gunakan bahasa lokal. Jika berbicara dengan orang dari daerah lain, gunakan bahasa yang dipahami berdua, atau gunakan bahasa Indonesia. Jika berbicara dengan orang asing, gunakan bahasa asing yang disepakati bersama atau menggunakan bahasa Internasional, misalnya bahasa Inggris.

Jika bekerja sama untuk urusan duniawi, gunakan adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan/ atau peraturan perundang-umdangan yang berlaku. Jika bekerja sama untuk urusan akhirat, gunakan sumber acuan agamamu agar tidak tersesat selamanya. Jika akhirat menjadi tujuan hidupmu, in syaaa Allah, dunia akan mengikutimu, Aamiin.

Menjadi orang baik saja tidak cukup, misalnya menolong orang yang merampok. Menolong orang itu baik, tetapi merampok itu tidak benar. Karena itu, mari kita biasakan yang benar, bukan membiasakan yang tidak benar.

Catatan:
Pendekatan budaya bersifat relatif bergantung pada nilai dan kepatutan bagi komunitas yang bersangkutan. Karena itu, pendekatan proxemics memerlukan kesepakatan lokal, daerah, nasional, dan internasional agar tidak terjadi kegamangan, kapan dan dimana, pengetahuan budaya akan digunakan.

Pemerhati budaya

Related Posts

Arts

Budaya, Boleh Saja Asalkan Tidak Bertentangan dengan Syari’at

Artikel ini awalnya ditampilkan di Wahdah Islamiah. Isinya sangat menarik karena kontekstual dengan Budaya, Syariat Islam, dan NKRI. Wahdah Islamiyah / admin wahdah / 4 hours ago Islam adalah agama yang sama sekali tidak menentang dan ingin menghapus budaya. Read more…

Arts

Ekspresi Nilai dan Ekonomi Kreatif

Ekspresi Budaya Tradisional merupakan ekspresi nilai yang dilindungi hak cipta adalah bahan baku Ekonomi Kreatif Bagian kedua (tamat) Dalam suatu kesempatan mendampingi kunjungan kerja ke Korea untuk menjalin hubungan kerja sama internasional bidang Ekonomi Kreatif Read more…

Arts

Warisan Hidup dan Kekayaan Intelektual

Mengapa warisan hidup dan Kekayaan Intelektual? Bagian pertama Istilah warisan hidup atau living heritage digunakan oleh ICH-UNESCO, yang di Indonesia diterjemahkan dengan warisan budaya takbenda sejak Indonesia menjadi Negara Pihak di bawah Konvensi 2003 UNESCO Read more…