Negara kita dibangun berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29, ayat 1) dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu (pasal 29, ayat 2).

Toleransi antarumat beragama bukan berarti meyakini kebenaran semua agama (pluralisme), melainkan mengakui perbedaan agama dan kepercayaannya itu berdasarkan Konstitusi (pasal 29, ayat 1 dan 2).

Bagaimana sikap toleransi yang benar?

Bagi setiap pemeluk agama dan kepercayaannya itu, agama dan kepercayaannya itulah yang paling benar menurut keyakinannya.

Sikap yang benar dalam toleransi antarumat beragama dan kepercayannya itu dengan menghormati perbedaan agama dan kepercayaan itu tanpa harus meyakini bahwa semua agama dan kepercayaannya itu benar (pasal 29, ayat 2).

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6)

Jadi, sikap kita tidak meyakini bahwa semua agama dan kepercayaannya itu benar (pluralisme), tetapi kita belajar mengenal perbedaan dan saling menghormati perbedaan agama dan kepercayaannya itu (multikulturalisme) agar kita dapat hidup berdampingan secara damai berdasar atas Pancasila dan UUD 1945.

Bagaimana sikap kita terhadap pemeluk agama dan kepercayaan yang lain?

Sebagai umat Islam, kita diperintahkan Allah agar berlaku adil kepada suatu kaum.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 8)

Sumber: Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Jadi, Negara Indonesia bukan Negara Sekuler, yang memisahkan Negara dengan Agama dan Kepercayaannya itu, melainkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar atas Pancasila dan UUD 1945, yang mengakui perbedaan agama dan kepercayaannya itu (pasal 29, ayat 1 dan 2).

Tujuan kita bernegara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Semoga Allah merahmati kita semua, Aamiiin.


0 thoughts on “Negara Indonesia bukan Negara Sekuler”

Leave a Reply

Related Posts

Religious Life

Hati, Mata, dan Telinga

Hati untuk memahami ayat-ayat Alloh Mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Alloh Telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Alloh ******* Alloh Subhaanahuu wa Ta’aalaa berfirman: وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا Read more…

Enactment

Menata Kehidupan Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat

Tujuh pilar kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat 1. Hukum berkepentingan dalam mengatur kehidupan berbangsa (deklarasi universal hak asasi manusia), bernegara (konstitusi), dan bermasyarakat (hak berbudaya dan beragama, dilindungi konstitusi). 2. Politik berkepentingan untuk meraih, mengelola, Read more…

Enactment

Kunjungan Wisatawan Taiwan ke Bali

News, KAOHSIUNG, KOMPAS.com – Kementerian Pariwisata menargetkan 275.000 wisatawan Taiwan akan berkunjung ke sejumlah obyek wisata di Indonesia selama 2016. “Jumlah tersebut sangat realistis mengingat letak geografis keduanya tak terlalu jauh,” kata Penasihat Senior untuk Read more…