Ada yang salah dengan judul artikel ini? Melihat dengan telinga dan mendengar dengan mata. Tidak, tidak ada yang salah, kalimat itu mengalir dari seorang penyanyi legendaris, si Burung Camar, siapa lagi kalau bukan Vina Panduwinata.

Dalam satu perjalanan di dalam pesawat, saya mendapat pencerahan dari Vina Panduwinata, yang bersuara khas dan tak tergantikan hingga saat ini.

Apa yang membuat Vina menjadi legenda penyanyi pop, tahun 80an, sampai sekarang?

Vina sangat menyadari bahwa dirinya seorang penyanyi profesional.

“Ibarat ayam, yang saya pikirkan bagaimana agar telur yang dihasilkan yang terbaik,” ujarnya.

“Saya fokus sebagai penyanyi, tapi setiap kali akan tampil, saya selalu membawa make-up artist dan manajer, yang selalu mendampingi saya. Jadi, saya tidak mengurus kontrak dan penampilan,” katanya.

Mengapa Vina selalu tampil menarik seakan menyedot seluruh perhatian penonton?

Vina membeberkan resepnya, “Saya menyanyi secara total. Saya ingin penonton terhibur dan senang, tidak hanya mendengar suara saya, tetapi juga melihat penampilan saya, saya mengajak penonton melihat dengan telinga, dan mendengar dengan mata,” mengakhiri perbincangan singkat dengan penyanyi legendaris Vina Panduwinata.

“Vina, the Singer, not only the Song.”


0 thoughts on “Melihat dengan Telinga dan Mendengar dengan Mata”

Leave a Reply

Related Posts

Arts

Penipuan Massal

Penipuan Massal dengan produk-produk budaya yang serupa. Menurut Adorno dan Horkheimer, industri budaya adalah fenomena utama dari kapitalisme akhir, yang mencakup semua produk dan bentuk hiburan ringan – dari film Hollywood hingga musik. Semua bentuk Read more…

Arts

Globalisasi dan Industri Kreatif

Globalisasi terjadi dimana-mana dan Industri Kreatif merespons dengan menciptakan produk dan jasa kreatif. Fenomena yang terjadi di hampir semua kota besar di dunia yang dapat dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan dengan produk-produk ternama di dunia seakan Read more…

Arts

Istilah Warisan Budaya Hidup

Istilah Warisan Budaya Hidup atau Living Heritage adalah istilah lain yang digunakan dalam Konvensi 2003 UNESCO tentang Pelindungan Intangible Cultural Heritage. Istilah “Intangible Cultural Heritage” disingkat “ICH” diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Warisan Budaya Hidup Read more…