Mengapa Al-Quran, Sains dan Teknologi harus dipelajari di masa pandemi Covid-19 dan Masyarakat 5.0?

Masa Pandemi Covid-19 dan Masyarakat 5.0 telah mengubah pola pikir dan pola perilaku yang ditandai dengan era Internet of Things, Big Data, dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Oleh karena itu, pengembangan dan pemanfaatan sains dan teknologi, yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, diyakini akan membawa bencana bagi alam semesta dan kehidupan manusia di bumi.

Al Qur’an adalah wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Rasul Nya, melalui malaikat Jibril, yang berisi Kebenaran Tertinggi (Absolut), yang ditujukan kepada orang-orang yang mau berpikir bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian Dia bersemayan di atas Arsy (As-Sajdah, 42:4), sehingga mustahil perkembangan sains dan teknologi bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَا لًا نُّوْحِيْۤ اِلَيْهِمْ فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۙ

wa maaa arsalnaa ming qoblika illaa rijaalan nuuhiii ilaihim fas`aluuu ahlaz-zikri ing kungtum laa ta’lamuun

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 43)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بِا لْبَيِّنٰتِ وَا لزُّبُرِ ۗ وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّا سِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

bil-bayyinaati waz-zubur, wa angzalnaaa ilaikaz-zikro litubayyina lin-naasi maa nuzzila ilaihim wa la’allahum yatafakkaruun

“(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 44)

Sebagai wahyu Ilahi, al-Quran telah digunakan sebagai sumber pengembangan sains dan teknologi, seperti penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia dan sebagainya; pendidikan mengajarkan tentang perubahan cara berpikir dan berperilaku; filsafat mengajarkan tentang logika, estetika, metafisika, dan epistemologi; matematika mengajarkan tentang ruang dan bilangan; kedokteran mengajarkan tentang kesehatan dan pengobatan; politik mengajarkan tentang ketatanegaraan dan administrasi negara; hubungan internasional mengajarkan tentang diplomasi dan kerja sama internasional; hukum mengajarkan tentang keadilan dan peraturan perundang-undangan; ekonomi mengajarkan tentang kemakmuran dan kesejahteraan; lingkungan hidup mengajarkan tentang lingkungan di luar organisme hidup; sejarah mengajarkan tentang peristiwa di masa lalu untuk memahami masa kini dan merencanakan masa depan: kesusastraan mengajarkan tentang karya sastra; linguistik mengajarkan tentang bahasa; kesenian mengajarkan tentang keindahan; psikologi mengajarkan tentang gejala dan kegiatan jiwa; antropologi mengajarkan tentang manusia, kebudayaan, dan lingkungannya; arkeologi mengajarkan tentang peninggalan kebudayaan material; sosiologi mengajarkan tentang masyarakat; pariwisata mengajarkan tentang perjalanan dan keramahan; teknologi mengajarkan tentang sains terapan, yang membuat hidup lebih praktis, lebih mudah, dan lebih nyaman; komunikasi mengajarkan tentang pengiriman dan penerimaan pesan; informasi mengajarkan tentang data; perpustakaan dan arsip mengajarkan tentang repositori sains dan teknologi universal; kepolisian mengajarkan tentang melindungi dan melayani masyarakat serta penegakan hukum; pertahanan mengajarkan tentang bela negara.

Selain sains murni dan terapan, sejak lahir manusia diberi insting untuk hidup, mempertahankan diri, dan mengembangkan keturunan (reproduksi); intuisi (daya atau kemampuan untuk mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari); dan ilham (petunjuk Allah yang timbul di hati, sesuatu yang menggerakkan hati, merupakan sebagian kecil dari ilmu Allah yang diberikan kepada hamba Nya, yang bertakwa (taat pada perintah Nya dan menjauhi larangan Nya), dalam bentuk hikmah dan ilmu Allah (agama), pemahaman yang dalam tentang suatu peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya sebagai hikmah (pelajaran) di masa lalu dan yang akan terjadi di masa depan sebagai dasar perkembangan sains dan teknologi semesta, yang diberikan Allah kepada hamba-hamba Nya yang terbaik, seperti para rasul, nabi, wali, ulama, dan pengikutnya, yang mengimani, mempelajari ilmu Allah (agama) dan ilmu dunia (sains dan teknologi semesta), serta mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.

 

Hikmah adalah satu di antara karunia terbesar yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berakal, baik akal lahir maupun akal batin, yang dapat mengambil pelajaran dari al-qur’an dan as-sunnah.

Al Qur’an menyatakan :

“Allah menganugerahkan al-Hikmah (pemahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” Al-Qur’an,  Surah Al-Baqarah, Ayat 269

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشاءُ

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqarah: 269)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan hikmah ialah pengetahuan mengenai Al-Qur’an, menyangkut nasikh dan mansukh-nya, muhkam dan mutasyabih-nya, muqaddam dan muakhkhar-nya, halal dan haramnya serta perumpamaan-perumpamaannya.

Juwaibir meriwayatkan dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas secara marfu’, bahwa yang dimaksud dengan al-hikmah ialah Al-Qur’an, yakni tafsirnya. Diartikan demikian oleh Ibnu Abbas mengingat Al-Qur’an itu dibaca oleh orang yang bertakwa dan juga oleh orang yang fajir (berdosa). Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih.

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, yang dimaksud dengan al-hikmah ialah benar dan tepat dalam perkataan.

Lais ibnu Abu Salim meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqarah: 269) Yang dimaksud dengan hikmah bukanlah kenabian, melainkan ilmu, fiqih, dan Al-Qur’an.

Abul Aliyah mengatakan, yang dimaksud dengan hikmah ialah takut kepada Allah, karena takut kepada Allah merupakan puncak dari hikmah.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui jalur Baqiyyah, dari Usman ibnu Zufar Al-Juhani, dari Abu Ammar Al-Asadi, dari Ibnu Mas’ud secara marfu’:

“رَأْسُ الْحِكْمَةِ مَخَافَةُ اللَّهِ”

Puncak hikmah adalah takut kepada Allah.

Abul Aliyah, menurut salah satu riwayat yang bersumber darinya, mengatakan bahwa hikmah adalah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan pemahaman mengenainya.

Ibrahim An-Nakha’i mengatakan bahwa hikmah ialah pemahaman, sedangkan menurut Abu Malik, hikmah adalah sunnah Rasul Shalallahu’alaihi Wasallam.

Ibnu Wahb meriwayatkan dari Malik, bahwa Zaid ibnu Aslam pernah mengatakan bahwa hikmah ialah akal.

Malik mengatakan, “Sesungguhnya terbetik di dalam hatiku bahwa hikmah itu adalah pengetahuan mengenai agama Allah dan merupakan perkara yang dimasukkan oleh Allah ke dalam hati manusia sebagai rahmat dan karunia-Nya. Sebagai penjelasannya dapat dikatakan bahwa engkau menjumpai seorang laki-laki pandai dalam urusan duniawinya, jika ia memerhatikannya, sedangkan engkau jumpai yang lainnya lemah dalam perkara duniawinya, tetapi berpengetahuan dalam masalah agama dan mendalaminya. Allah memberikan yang ini kepada laki-laki yang pertama dan memberikan yang itu kepada laki-laki yang kedua. Pada garis besarnya hikmah adalah pengetahuan mengenai agama Allah.”

As-Saddi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-hikmah dalam ayat ini ialah kenabian.

Pendapat yang sahih sehubungan dengan arti hikmah ini ialah apa yang dikatakan oleh jumhur ulama, yaitu bahwa hikmah itu tidak khusus menyangkut kenabian saja, melainkan pengertian hikmah lebih umum dari itu, dan memang paling tinggi adalah kenabian. Kerasulan lebih khusus lagi, tetapi pengikut para nabi memperoleh bagian dari kebaikan ini berkat mengikutinya. Seperti halnya yang disebut di dalam sebuah hadis yang isinya mengatakan:

«مَنْ حَفِظَ الْقُرْآنَ فَقَدْ أُدْرِجَتِ النُّبُوَّةُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُوحَى إِلَيْهِ»

Barang siapa yang hafal Al-Qur’an, berarti derajat kenabian telah berada di antara kedua pundaknya, hanya dia tidak diberi wahyu.

Hadis ini diriwayatkan oleh Waki’ ibnul Jarrah di dalam kitab tafsir-nya melalui Ismail ibnu Rafi’, dari seorang laki-laki yang tidak disebutkan namanya, dari Abdullah ibnu Umar yang dianggap sebagai ucapannya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع وَيَزِيدُ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ -يَعْنِي ابْنَ أَبِي خَالِدٍ -عَنْ قَيْسٍ -وَهُوَ ابْنُ أَبِي حَازِمٍ -عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فسلَّطه عَلَى هَلَكته فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Yazid. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail (yakni Ibnu Abu Khalid), dari Qais (yaitu Ibnu Abu Hazim), dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Tidak boleh ada iri hati kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang laki-laki yang dianugerahi harta oleh Allah, lalu ia menggunakannya untuk membiayai perkara yang hak; dan seorang laki-laki yang dianugerahi hikmah oleh Allah, lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya (kepada orang lain).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الأسْوَاقِ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا (20) }

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat (Al-Furqan, ayat 20)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, memberitahukan tentang para rasul terdahulu yang telah Dia utus, bahwa mereka memakan makanan dan memerlukan gizi, serta biasa berjalan di pasar-pasar untuk mencari mata pencaharian dan berdagang. Hal tersebut tidaklah bertentangan dengan keadaan mereka dan juga kedudukan mereka, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan pada diri mereka tanda-tanda yang baik, sifat-sifat yang terpuji, ucapan-ucapan yang utama, amal perbuatan yang sempurna, dan mukjizat-mukjizat yang cemerlang serta dalil-dalil (bukti-bukti) yang jelas sehingga orang yang mempunyai hati yang sehat dan pandangan yang lurus akan membenarkan bahwa apa yang disampaikan oleh mereka itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى}

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk kota. (Yusuf: 109)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ}

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan. (Al-Anbiya: 8), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ}

Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? (Al-Furqan: 20)

Yaitu Kami menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan dengan sebagian yang lain agar Kami mengetahui siapa orang yang taat dan siapa orang yang durhaka (di antara kalian). Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya:

{أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا}

Maukah kalian bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat. (Al-Furqan: 20)

Yakni siapakah yang patut diberi wahyu. Pengertiannya sama dengan apa yang terkandung di dalam firman-Nya:

{اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ}

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (Al-An’am: 124)

Maksudnya, siapa yang berhak dianugerahi tugas kerasulan, dan siapa yang tidak berhak menerimanya.

Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? (Al-Furqan: 20) Seakan-akan Allah berfirman, “Seandainya Aku menghendaki dunia ini Aku jadikan bersama para rasul-Ku, agar mereka tidak ditentang, tentulah Aku dapat melakukannya. Akan tetapi, sengaja Aku menghendaki untuk menguji hamba-hamba-Ku dengan para rasul-Ku, dan Aku menguji para rasul-Ku dengan mereka.”

Di dalam kitab Sahih Muslim telah diriwayatkan melalui Iyad ibnu Hammad, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda:

“يَقُولُ اللَّهُ: إِنِّي مُبْتَلِيك، ومُبْتَلٍ بِكَ”

Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan mengujimu dan menguji (hamba-hamba)-Ku denganmu.”

Di dalam kitab musnad disebutkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

“لَوْ شِئْتُ لَأَجْرَى اللَّهُ مَعِي جِبَالَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ”

Seandainya aku menghendaki, tentulah Allah akan menjadikan untukku gunung-gunung itu emas dan perak.

Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah disuruh memilih antara menjadi seorang nabi lagi seorang raja atau menjadi seorang hamba lagi seorang rasul. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memilih agar dirinya dijadikan seorang hamba lagi seorang rasul (Tafsir Ibnu Katsir)

Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma menjadi baik, wahai Rasulullah!”
 
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
 
لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ
 
Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
 
مَا لِنَخْلِكُمْ
 
Mengapa kurma itu bisa menjadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kami begini dan begitu…” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
 
Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim, no. 2363)

Perbedaan Ilmu Hikmah dengan Sains

“Asbab Al-Nuzul Kisah Khidir di Alquran | Republika Online Mobile” https://m.republika.co.id/amp/ome1z4313

Metode Deduktif dan Induktif

Metode deduktif adalah metode belajar dan mengajar yang dimulai dari hal yang bersifat umum kemudian ditarik kesimpulan pada hal yang bersifat khusus.

Metodologi Grand Theory

1. Teori Besar bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah (al-Qauliyah).
2. Hipotesis (hubungan antarvariabel).
3. Kesimpulan yang bersifat khusus.

Kebenaran ilmiah bukan membuktikan Kebenaran Absolut, melainkam menjelaskan Kebenaran Absolut melalui penelitian ilmiah yang sesuai dengan kehendak Nya.

Allah-lah Yang Menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber­semayam di atas ‘Arasy. Tidak ada bagi kamu selain dari-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memerhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang (As-Sajdah, Ayat 4-6)

Untuk itu dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ya’qub, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah Al-Haddad, telah menceritakan kepada kami Al-Akhdar ibnu Ajian, dari Abu Juraij Al-Makki, dari Ata, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memegang tangannya, lalu bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya selama enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy pada hari ketujuhnya. Dia menciptakan bumi pada hari Sabtu, gunung-gunung pada hari Ahad, pepohonan pada hari Senin, hal yang tidak disukai pada hari Selasa, Cahaya pada hari Rabu, hewan-hewan pada hari Kamis, dan Adam pada hari Jumat; yaitu di pengujung siang hari sesudah Asar. Allah menciptakannya dari lapisan tanah yang merah, dan yang hitam, dan yang baik, serta yang buruknya; karena itulah maka Allah menjadikan sebagian dari Bani Adam ada yang baik dan ada yang buruk.

Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Imam Nasai berikut sanad dan matannya (Tafsir Ibnu Katsir).

Metode Induktif

Metode induktif adalah cara yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus menuju kesimpulan yang bersifat umum.

Metodologi Grounded Research

1. Ayat-ayat Allah di alam semesta, bumi beserta isinya termasuk manusia (al-Kauniyah)
2. Hipotesis (hubungan antarvariabel)
3. Teori (seperangkat prinsip yang mendasari praktik suatu kegiatan)

“Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 3)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujurat, ayat 13).

Metode Deduktif-Induktif

1. Anggapan Dasar (Asumsi) yang diterima sebagai Kebenaran Tertinggi yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah (al-Qauliyah) dan Ayat-ayat Allah di alam semesta, bumi berserta isinya, termasuk manusia (al-Kauniyah)
2. Hipotesis (hubungan antarvariabel)
3. Teori (seperangkat prinsip yang mendasari praktik suatu kegiatan, yang ditemukan berdasarkan penelitian dan penemuan yang didukung data dan fakta, yang digunakan untuk menganalisis, menjelaskan, dan memproyeksikan masa depan).

”Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: Ayat 19-20)

Fenomena alam di atas terjadi di Selat Gibraltar, yang memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara Maroko dengan Spanyol. Penjelasan secara fisika modern tentang fenomena tersebut baru pada abad ke-20 M oleh ahli-ahli Oceanografi.

Ilmu Agama dan Ilmu Dunia (3B)

1. Beriman kepada Allah Ta’ala, Malaikat-malaikat Nya, Kitab-kitab Nya, Rasul-rasul Nya, Kiamat, Qada dan Qadar – Sami’na wa atho’na (kami dengar, kami taat).

2. Berilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah (al-Qauliyah) dan Alam semesta, bumi beserta isinya, termasuk manusia (al-Kauniyah) sebagai informasi yang bersifat umum untuk obyek penelitian dan pengembangan Sains dan Teknologi.

3. Beramal Saleh (mengamalkan ilmu agama dan ilmu dunia untuk diri sendiri dan keluarganya, sebelum mengajarkannya kepada orang lain seumur hidup, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta maslahat untuk orang banyak)

Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. 

Lihat tautan di bawah ini:
https://m.republika.co.id/berita/qgin9s430/kisah-profesor-matematika-jadi-mualaf-sebab-surat-azzariyat

Kesimpulan

“Karunia Allah meliputi ilmu agama (al-Qauliyah) untuk orang-orang yang beriman dan ilmu dunia (al-Kauniyah) untuk orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman.”

Related Posts

Enactment

Pedoman Penelitian Kebijakan

Sebuah pemikiran tentang pedoman penelitian kebijakan. Pemikiran ini berdasarkan pengalaman menangani masalah kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan dengan menggunakan pendekatan Manajemen Strategis, Kebijakan Publik, dan Metodologi Balanced ScoreCard. Perbedaan penelitian sosial dan penelitian kebijakan Read more…

Creative Economy

Dasbor Ekonomi Kreatif

Dasbor ekonomi kreatif berbasis rantai nilai ekonomi kreatif sebagai berikut. Pelaku Kreatif dan Penciptaan Nilai (dari kreativitas nilai budaya, kreativitas nilai tambah ekonomi, dan kreativitas nilai kebenaran sains, yang bermuara pada kreativitas nilai kebenaran sains Read more…

Art and Culture

Revitalisasi Angklung Indonesia

Mengapa Angklung Indonesia perlu direvitalisasi? Angklung Indonesia terinskripsi sebagai Warisan budaya takbenda UNESCO pada tahun 2010 dalam Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pusat penyebaran Angklung Indonesia di Jawa Barat, kemudian menyebar ke Read more…