Allah Subhaanahu Wata’aalaa berfirman:

“Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memerdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”
(QS. Fatir 35: Ayat 5)

Allah Subhaanahu Wata’aalaa berfirman:

“Sungguh, setan (syaitan) itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
(QS. Fatir 35: Ayat 6)

Sumber: Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Tafsir Ibnu Katsir
Fathir, ayat 4-6

Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan), maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Allah Subhaanahu Wata’aalaa berfirman, jika mereka mendustakan kamu, hai Muhammad, yaitu mereka yang musyrik kepada Allah, dan mereka menentang ajaran yang engkau sampaikan kepada mereka berupa ajaran tauhid, maka ketahuilah engkau mempunyai suri teladan dari para rasul yang ada sebelum kamu. Karena sesungguhnya mereka pun mengalami nasib yang serupa; mereka datang kepada kaumnya dengan membawa ayat-ayat Allah yang jelas dan memerintahkan mereka untuk mengesakan Allah, tetapi mereka menentangnya dan mendustakannya.

Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (Fathir: 4)

Yakni kelak Kami akan membalas mereka atas hal tersebut dengan balasan yang sempurna.

Kemudian Allah Subhaanahu Wata’aalaa menyebutkan dalam firman selanjutnya:

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar. (Fathir: 5)

Artinya, hari berbangkit itu pasti terjadi dan tidak bisa dielakkan lagi.

maka sekali-sekali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu. (Fathir: 5)

Yaitu kehidupan yang rendah bila dibandingkan dengan pahala yang telah disediakan oleh Allah bagi kekasih-kekasih-Nya dan para pengikut rasul-rasul-Nya, berupa kebaikan yang sangat besar. Karena itu, janganlah kalian melupakan kebahagiaan yang abadi itu karena adanya perhiasan duniawi yang fana ini.

dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu memper­dayakan kamu tentang Allah. (Fathir: 5)

Yakni setan.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sekali-kali jangan kamu biarkan setan menipu kalian dan memalingkan kalian dari mengikuti utusan-utusan Allah dan membenarkan kalimah-kalimah-Nya. Karena sesungguhnya setan itu pada hakikatnya adalah penipu, pendusta, dan pembual. Makna ayat ini sama dengan ayat yang ada di dalam surat Luqman melalui firman-Nya:

maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula)
penipu (setan)
memperdayakan kamu dalam (menaati)
Allah(Luqman: 33)

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa yang dimaksud dengan penipu di sini adalah setan, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir kelak di hari kiamat ketika diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat, dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, “Bukankah kami dahulu bersama dengan kamu?”

Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. (Al-Hadid: 14)

Kemudian Allah Subhaanahu Wata’aalaa menjelaskan permusuhan iblis terhadap anak Adam melalui firman-Nya:

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu). (Fathir: 6)

Setan itu adalah musuh kalian yang terang (nyata), maka musuhilah setan itu oleh kalian dengan permusuhan yang keras. Tentanglah mereka dan dustakanlah mereka bila membujuk kalian untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran.

karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fathir: 6)

Yakni sesungguhnya tujuan setan menyesatkan kalian hanyalah agar kalian masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala bersama-sama dengan mereka; setan adalah musuh yang jelas. Kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita sebagai musuh-musuh setan dan hendaknyalah Dia memberi taufik kepada kita untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an-Nya dan mengikuti jejak Rasul-Nya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas apa yang dikehendaki-Nya dan Mahakuasa untuk memperkenankan doa yang dipanjatkan kepada-Nya. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, “maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al-Kahfi: 50)

Pengertian Zalim (2)
Sumber: thayyiba.com

Makna zalim menurut bahasa adalah

Makna asalnya adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. (Ash Shihah fil Lughah, 1/438. Aisar At Tafasir, 3/248)

Makna Zalim menurut Al-Quran

1. Kegelapan, seperti pada ayat di bawah ini.

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). (QS. Al Baqarah (2): 257)

2. Aniaya atau jahat

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. An Nisa (4): 148)

3. Kekafiran

Orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah (2): 254)

4. Kesyirikan

Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang besar. (QS. Luqman (31): 13)

5.  Kemaksiatan

Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. (QS. Faathir (35): 32)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan tentang orang yang menganiaya diri sendiri:

Yaitu orang yang meremehkan dari melakukan sebagian kewajiban dan melakukan sebagian hal-hal yang diharamkan. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/546)

Macam-Macam Kezaliman

Tersebut dalam riwayat Imam Abu Daud Ath Thayalisi sebagai berikut:

Berkata kepada kami Abu Daud, berkata kepada kami Ar Rabi’, dari Yazid, dari Anas, katanya bersabda Rasulullah ﷺ: Kezaliman ada tiga;

1. Kezaliman yang tidak akan Allah biarkan.
2. Kezaliman yang akan diampuni.
3. Kezaliman yang tidak akan diampuni.

Ada pun kezaliman yang tidak akan diampuni adalah kesyirikan, Allah tidak akan mengampuninya. Lalu kezaliman yang diampuni adalah kezaliman seorang hamba, jika dia berbuat kesalahan antara dirinya dengan Rabbnya (baca: maksiat), sedangkan kezaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezaliman sesama manusia (maksudnya Allah Ta’ala akan memberikan balasan setimpal bagi pelakunya, pen).
(HR. Ath Thayalisi No. 2109, 2223, Abdurazzaq dalam Al Mushannaf No. 20276, dari Qatadah atau Al Hasan, Al Bazzar No. 2493. Hadits ini hasan. Lihat Shahih Kunuz As Sunnah An Nabawiyah, 1/101. Lihat juga Shahihul Jami’ No. 3961)

Larangan Berbuat Zalim  
Dalam hadits Qudsi disebutkan:

Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi ﷺ  bersabda tentang apa yang Beliau riwayatkan dari Allah ﷻ  bahwa Dia berfirman:

Wahai hambaKu …
Aku haramkan  zalim atas diri-Ku.
Dan kujadikan ia larangan bagimu, maka janganlah saling menzalimi.
(HR. Imam Muslim   No. 2577,  Al Bukhari dalam Adabul MufradNo. 490)

Menyikapi Pelaku Kezaliman

Jangan  Bergaul Dengan Mereka

Allah ﷻ berfirman:

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. Huud: 113)

Mencegah Kezalimanya

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah ﷺ
bersabda:

Hendaknya seseorang menolong saudaranya yang zalim atau yang dizalimi. Jika dia pelaku kezaliman maka hendaknya mencegahnya, maka itu adalah pertolongan baginya. Jika dia yang dizalimi, maka tolonglah dia. (HR. Muslim No. 2584)

Wallahu A’lam (put/thayyiba)

Pemateri: Ust. Farid Numan Hasan, Ss

10 Pintu Setan dalam Menyesatkan Manusia

Disadur dari tulisan Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
July 12, 2009

Saudaraku, ketahuilah bahwa hati adalah ibarat sebuah benteng. Setan sebagai musuh kita selalu ingin memasuki benteng tersebut. Setan senantiasa ingin memiliki dan menguasai benteng itu. Tidak mungkin benteng tersebut bisa terjaga kalau tidak ada penjagaan yang ketat pada pintu-pintunya.

Pintu-pintu tersebut bisa terjaga dengan baik, jika seseorang mengetahui pintu-pintu tersebut. Setan tidak bisa terusir dari pintu-pintu tersebut, kalau seseorang tidak mengetahui cara setan memasukinya. Cara setan memasuki pintu-pintu tesebut amatlah banyak. Pada saat ini kami akan menunjukkan pintu-pintu terbesar yang biasa dimasuki setan. Semoga Allah memberikan kita pemahaman dalam permasalahan ini.

Pintu pertama:

Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki setan yaitu hasad (dengki) dan tamak.
Jika seseorang memiliki sifat hasad, setan akan menghias-hiasi sesuatu seolah-olah terlihat baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar. Demikian juga, jika seseorang sangat tamak pada sesuatu, ketamakan tersebut akan membutakan, membuat tuli, dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya setan.

Pintu kedua:

Marah adalah pintu terbesar kedua. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara setan akan melakukan serangan dan mereka akan menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, segera minta perlindungan kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan: a’udzu billah (aku berlindung kepada Allah), maka akan redamlah marahnya.” (As Silsilah Ash Shohihah no. 1376. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Pintu ketiga:

Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat tinggal, pakaian, dan segala perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.

Pintu keempat:

Yaitu kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat sebagaimana dalam hadits:

Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia, dialah yang akan sering lapar di hari kiamat nanti.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Pintu kelima:

Yaitu tamak pada orang lain. Jika seseorang memiliki sifat seperti ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka di hadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari kemungkaran.

Pinta keenam:

Yaitu sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah, sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Pintu ketujuh:

Yaitu cinta harta. Sifat seperti ini akan senantiasa berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin, dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.

Pintu kedelapan:

Yaitu mengajak orang awam supaya ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam madzhab atau golongannya.

Pintu kesembilan:

Yaitu mengajak orang awam untuk memikirkan hakikat (kaifiyah) zat dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat mereka menjadi ragu dalam masalah paling mendesak (urgen) dalam agama ini, yaitu masalah aqidah.

Pintu kesepuluh:

Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang selalu berburuk sangka (bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya. Seharusnya seorang mukmin selalu mencari udzur dari saudaranya. Berbeda dengan orang munafik yang selalu mencari-cari ‘aib orang lain.

Semoga kita dapat mengetahui pintu-pintu ini dan semoga kita diberi taufik oleh Allah untuk menjauhinya.

  • Rujukan:
    Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisiy

0 thoughts on “Godaan Syaitan”

Leave a Reply

Related Posts

Religious Life

Merasa dirinya buruk dan banyak kelemahan

Merasa dirinya buruk dan banyak kelemahan Sudah baikkah saya, walaupun selalu sholat 5 waktu serta tepat pada waktunya. Sudah baikkah saya,  walaupun telah berhaji dan umroh beberapa kali. Sudah baikkah saya, walaupun telah bersedekah setiap Read more…

Religious Life

Azab Allah

Allah Subhaanahu wa ta’aalaa berfirman: “Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 137) Allah Read more…

Lifestyle

Orang yang Cerdas

Orang yang Cerdas Orang yang cerdas adalah orang sempurna perkembangan akal budinya. Howard Gardner, pakar psikologi perkembangan, yang berupaya menciptakan teori baru tentang pengetahuan sebagai bagian dari karyanya, Frame of Mind (1983), di Universitas Harvard. Read more…