Ekspresi Budaya Tradisional merupakan ekspresi nilai yang dilindungi hak cipta adalah bahan baku Ekonomi Kreatif

Bagian kedua (tamat)

Dalam suatu kesempatan mendampingi kunjungan kerja ke Korea untuk menjalin hubungan kerja sama internasional bidang Ekonomi Kreatif di Indonesia, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia bertemu dengan Menteri Kebudayaan Korea.  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia kepada Menteri Kebudayaan Korea, “Apakah kami perlu bertemu dengan Menteri yang menangani media, desain, dan iptek? Jawaban Menteri Kebudayaan Korea, “Tidak perlu, cukup dengan Menteri Kebudayaan.” Setelah menandatangani Nota Kesepakatan, satu bulan kemudian, kami menerima kunjungan Direktur Kerja Sama Internasional Korea dan bertanya, “Apakah ada yang perlu dikerjasamakan selain yang telah ditandatangani dalam Nota Kesepakatan?” Pada waktu itu kami merasa terkejut karena ruang lingkup kerja sama yang telah disepakati bersama antara Indonesia dan Korea meliputi bidang ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya (EKSB) serta ekonomi kreatif berbasis media, desain dan IPTEK (EKMDI). Dari pertemuan tersebut kami mengetahui bahwa Korea melakukan pengembangan ekonomi kreatif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dan perencanaan masa depan oleh Menteri yang menangani Ilmu Pengetahuan dan Perencanaan Masa Depan, yang di Indonesia termasuk ekonomi kreatif berbasis media, desain dan IPTEK.

Dalam penugasan kami sebagai Ketua Hubungan Kerja Sama Internasional bidang Ekonomi Kreatif, antara Indonesia dengan Inggris, yang difasilitasi oleh British Council, perbincangan kami dengan pihak Inggris, yang menangani kebudayaan, desain, media, dan olahraga berada di bawah Kementerian Kebudayaan, Desain, Media, dan Olahraga (CDMS).

Dari kedua pertemuan tersebut, kami mengetahui bahwa Inggris mengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya, sedangkan Korea mengembangkan ekonomi kreatif berbasis ilmu pengetahuan dan perencanaan masa depan. Sementara itu, Indonesia mengembangkan ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya serta ekonomi kreatif berbasis media, desain, dan IPTEK.

Pada saat Bapak Joko Widodo menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, kami mendampingi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ibu Mari Elka Pangestu bertukar pikiran tentang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Bapak Joko Widodo dengan singkat menyampaikan bahwa “Ekonomi kreatif basisnya budaya.”

Bertolak dari pemikiran di atas, kami menggunakan sumber-sumber dari UNESCO (United Nation Education, Science, Culture and Information) yang menangani urusan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta informasi, dan UNCTAD (United Nation Conference on Trade and Development).

UNCTAD telah menerbitkan buku Orange Economy atau Ekonomi Kreatif yang menyebutkan bahwa bahan baku ekonomi kreatif adalah budaya. Sementara itu, sumber-sumber dari UNESCO, yang terkait dengan pengembangan Ekonomi Kreatif dilakukan melalui tahapan dari ekspresi nilai yang dilindungi hak cipta, industri budaya, industri kreatif, dan ekonomi kreatif.

Ekspresi nilai atau ekspresi budaya tradisional atau warisan hidup merupakan bahan baku ekonomi kreatif. Guru Besar Ekonomi Kreatif dari Universitas Indonesia, Prof. Dr
Mari Elka Pangestu, mengatakan bahwa “DNA Ekonomi Kreatif adalah budaya.”

Mengapa pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya?

Kami pernah bersama dengan pembuat film animasi dari Walt Disney dan pembuat film animasi dari Indonesia bertemu dengan pengusaha sukses bidang televisi nasional mengatakan bahwa “Ekonomi kreatif yang diinginkan bukan yang seni budaya, seperti yang dikembangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tetapi seperti yang dilakukan oleh Korea.” Pada waktu itu K-Pop terkenal dengan Gangnam Style (budaya baru Korea yang tidak berbasis budaya tradisi) sedang mewabah terutama di kalangan milenial dunia.

Belajar dari pengembangan ekonomi kreatif yang dilakukan oleh Korea dan Inggris, serta Amerika dengan Silicon Valley dan Walt Disney, pengembangan ekonomi kreatif yang dikembangkan di Indonesia adalah ekonomi kreatif yang tidak meninggalkan identitas, nilai, dan makna, yang merupakan DNA dari ekonomi kreatif. Jika DNA itu hilang, produk ekonomi kreatif tidak akan memiliki daya saing karena tidak ada bedanya produk ekonomi kreatif di Indonesia dengan produk ekonomi kreatif di dunia.

Ekonomi kreatif memanfaatkan output ekspresi nilai yang berupa produk budaya dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dilindungi kekayaan intelektual (hak cipta, merek, paten, dan desain industri) sehingga menciptakan nilai tambah serta memberi manfaat bagi semua orang (social inclusion), menghargai keberagaman budaya (cultural diversity), dan mendukung pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Indonesia telah meratifikasi Konvensi UNESCO yang terkait dengan Ekonomi Kreatif, yaitu Konvensi 1972 tentang Proteksi Warisan Alam dan Budaya Dunia, Konvensi 2003 tentang Pelindungan Warisan Takbenda Benda (saat ini UNESCO menggunakan istilah living heritage atau warisan hidup), Konvensi 2005 tentang Proteksi dan Promosi Ekspresi Keberagaman Budaya.

Konvensi 1972 tentang Proteksi Warisan Alam dan Budaya Dunia menggunakan istilah nilai universal yang luar biasa (outstanding universal value), baik yang berupa warisan alam dan/ atau warisan budaya dunia, misalnya Manusia Purba, Lanskap Bali, Kompleks Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko dan sebagainya.

Konvensi 2003 tentang Pelindungan Warisan Hidup, menggunakan istilah ekspresi nilai yang diwujudkan dalam ekspresi dan tradisi lisan; seni pertunjukan; praktik sosial, ritual, acara perayaan; pengetahuan dan praktik tentang alam dan alam semesta; dan keterampilan tradisional.

Konvensi 2005 tentang produk budaya, baik yang berupa barang maupun jasa budaya, yang biasanya baru, atau kreasi baru, misalnya film, seni pertunjukan kontemporer, seni kriya baru, rekabaru desain, media baru dan sebagainya.

Ketiga konvensi tersebut terkait dengan pengembangan ekonomi kreatif, misalnya, film Eat, Pray and Love yang dibintangi oleh Julia Robert menggunakan Landskap Bali (Konvensi 1972) sebagai daya tarik alam dan budaya, Batik karya Iwan Tirta digunakan oleh Nelson Mandela dan pemimpin dunia lainnya (Konvensi 2005), film Si Pitung menggunakan Pencak Silat Betawi (Konvensi 2003).

Karena DNA ekonomi kreatif adalah budaya, ketiga produk budaya di atas masih dapat dikenali identitas, nilai, dan maknanya, dan biasanya lokal.

Tabik

 

Related Posts

Arts

Warisan Hidup dan Kekayaan Intelektual

Mengapa warisan hidup dan Kekayaan Intelektual? Bagian pertama Istilah warisan hidup atau living heritage digunakan oleh ICH-UNESCO, yang di Indonesia diterjemahkan dengan warisan budaya takbenda sejak Indonesia menjadi Negara Pihak di bawah Konvensi 2003 UNESCO Read more…

Arts

Take the wisdom from the past, to understand the present and envisage the future and its achievement strategies

The title of  this presentation is Take the Wisdom from the Past, to Understand the Present and Envisage the Future and Its Achievement Strategies Sub-theme: Sharing Heritage: Safeguarding Diversity Presented in World Culture Forum, International Read more…

Enactment

Ndalem Panembahan 12 Guest House

Ndalem Panembahan 12 Guest House Yogyakarta mempunyai tagline Liburan Anda terasa lebih nyaman, aman, dan menyenangkan seperti di rumah sendiri. Anda dapat melihat dan merasakan keunikan dan keramahan budaya orang Yogya di dalam wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ndalem Panembahan 12 Guest Read more…