Ekonomi Kreatif di Indonesia dirintis sejak pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) dengan diterbitkannya Inpres Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif, berawal dari Kementerian Perdagangan, kemudian menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif I (2011-2014), dilanjutkan pada pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif (2015-2019), dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif II/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2020-2024).

Tokoh Ekonomi Kreatif yang pernah berkunjung ke Indonesia pada acara Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) atas undangan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, adalah John Howkins, setelah Ibu Mari bertemu dengan John di London (2012).

Dalam acara Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI), John menjelaskan ekonomi kreatif dengan dua kata,  “Learning and Adaptation.” Hanya orang yang terus menerus belajar yang dapat beradaptasi dengan perubahan.

Salah seorang perintis ekonomi kreatif di Indonesia, Irvan Noe’man menjelaskan ekonomi kreatif dengan ungkapan, “Pisang hijau, pisang kuning/ emas, pisang busuk.” Pisang Hijau berawal dari penciptaan ide kreatif dan inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pisang Hijau akan menjadi Pisang Kuning (Emas) karena dibutuhkan pasar, tetapi dalam waktu singkat, Pisang Kuning (Emas) akan menjadi Pisang Busuk, jika tidak kreatif dan inovatif. Karenanya, hanya orang kreatif dan inovatif (OKI) yang memiliki karakter Artis, Kreatif, dan Pejuang (AKP), yang dapat mengembangkan usaha rintisan (startup), dari usaha mikro kecil (UMK) sampai usaha menengah besar (UMB).

Belajar dari pemikiran John dan Irvan di atas, pengembangan ekonomi kreatif hanya dapat dilakukan oleh OKI yang terus menerus belajar sehingga dapat beradaptasi dengan perubahan yang dinamis.

Dengan singkat, dengan daya cipta (kreatif) akan lahir ide-ide baru yang belum pernah ada sebelumnya (inovatif), sehingga Anda dapat mengantisipasi perubahan di masa depan (trend forcasting) serta mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa mengalami gegar budaya (culture shock).

Menjadi Pemimpin Masa Depan

Cara belajar bagi orang kebanyakan adalah melihat, meniru, dan memodifikasi (3M). Jika Anda menggunakan metode belajar 3M, Anda akan menjadi pengikut (follower), tidak akan pernah menjadi pemimpin pasar (market leader) karena  selalu belajar dari pembandingan (benchmarking), yang telah mengembangkan bisnisnya, 5, 10, 15, 20, 25 tahun yang lalu.

Pendahulu Anda telah memulai bisnisnya 25 tahun yang lalu, yang sampai sekarang masih terus mengembangkan bisnisnya, sementara Anda sebagai pengikut (follower), baru mulai merintis usaha (startup), melakukan 3M atau pembandingan (benchmarking).

Anda tidak akan pernah menjadi pemenang atau menjadi pisang kuning/ emas (market leader) selama pola pikir Anda sebagai pengikut (follower) atau pembanding (benchmarker) karena pesaing Anda telah lebih dulu sebagai pemenang di bisnisnya.

Tidak semua orang kreatif dan inovatif

OKI (orang kreatif dan inovatif) adalah orang yang bermental pemimpin dan percaya diri (self-confidence) sehingga mampu menciptakan ide-ide baru (inovatif) yang belum pernah ada sebelumnya (creativepreneur).

OKI menciptakan lapangan kerja (job creator), bukan pencari kerja (job seeker) dan bukan pula pemenang pasar (market leader) dengan cara-cara yang tidak adil (unfair play).

OKI tidak mengharapkan fasilitas dari siapa pun karena dalam keterbatasan pun, OKI dapat menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif.

OKI menentukan jalan hidupnya sendiri, tidak ditentukan oleh siapa pun atau sistem yang membatasi ide-ide kreatif dan inovatif (ide-ide baru), karena percaya dengan ungkapan “Kalau ada keinginan, selalu ada jalan.”

OKI hanya bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang bahagia (serene & peaceful), yang akan mendorong OKI bekerja luar biasa, dan sukses menjadi pemimpin masa depan.

Salam Kreatif

Inspirasi oleh Muhammad Yunus, pemenang Nobel di bidang Microfinance


admin

WALUYO, harry seorang pemelajar sepanjang hidup di bidang kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif

Related Posts

Enactment

Pedoman Penelitian Kebijakan

Sebuah pemikiran tentang pedoman penelitian kebijakan. Pemikiran ini berdasarkan pengalaman menangani masalah kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan dengan menggunakan pendekatan Manajemen Strategis, Kebijakan Publik, dan Metodologi Balanced ScoreCard. Perbedaan penelitian sosial dan penelitian kebijakan Read more…

Creative Economy

Dasbor Ekonomi Kreatif

Dasbor ekonomi kreatif berbasis rantai nilai ekonomi kreatif sebagai berikut. Pelaku Kreatif dan Penciptaan Nilai (dari kreativitas nilai budaya, kreativitas nilai tambah ekonomi, dan kreativitas nilai kebenaran sains, yang bermuara pada kreativitas nilai kebenaran sains Read more…

Art and Culture

Revitalisasi Angklung Indonesia

Mengapa Angklung Indonesia perlu direvitalisasi? Angklung Indonesia terinskripsi sebagai Warisan budaya takbenda UNESCO pada tahun 2010 dalam Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pusat penyebaran Angklung Indonesia di Jawa Barat, kemudian menyebar ke Read more…