Harry WALUYO dilahirkan di Jakarta. Minatnya di bidang budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Sepanjang hidupnya Harry WALUYO tidak pernah berhenti belajar agar dapat beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah.

Pendidikan formal Harry WALUYO di Jurusan Antropologi, Fakutas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung (1983) dan Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia (1998).

Selain pendidikan formal, Harry WALUYO pernah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan III (2000), Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan II (2002), Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan I (2012), yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara RI.

Pelatihan lain yang pernah diikuti Harry WALUYO adalah Crisis Management Training di Viet Nam (2007) dan Intangible Cultural Heritage (ICH) di Beijing sebagai fasilitator ICH-UNESCO untuk wilayah Asia dan Pasifik.

Harry WALUYO pernah menjadi peneliti dan penulis di Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan (1985-1999). Kepala Sub-direktorat Nilai Budaya (1999-2000). Kepala Bagian Perencanaan Kebudayaan (2000), Kepala Bagian Kerja Sama (2001-2002), Kepala Bidang Ekonomi Tradisional (2003), Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata (2004-2005), Kepala Pusat Data dan Informasi (2005-2009), Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan (2009-2010), Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata (2010-2012), Fasilitator Warisan Budaya Takbenda (Global Network Facilitators ICH-UNESCO) untuk wilayah Asia-Pasifik (2011-sekarang). Pelaksana Tugas Inspektur Jenderal (Desember, 2012-Oktober, 2014), Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain, dan IPTEK (Desember 2012-Oktober 2014), Sekretaris Utama di Badan Ekonomi Kreatif (Maret-Desember 2015), Pengajar mata kuliah Etika Pariwisata (2015) dan Pemasaran dan Destinasi Pariwisata di Fakultas Pariwisata, Universitas Pancasila (2016). Ketua Tim Percepatan Penetapan Kaldera Toba untuk UNESCO Global Geopark (2016-2017), dan Ketua Tim Crisis Centre Kepariwisataan (2016-2017). Tim penilai nominasi warisan budaya takbenda Indonesia yang akan diusulkan ke Sekretariat ICH-UNESCO, sejak 2017 sampai sekarang, partner kerja dengan Stuppa Indonesia untuk produksi video dokumentasi warisan budaya takbenda, kerja sama dengan ICHCAP, Republik Korea Selatan (2018-sekarang).

Sebelum menjadi fasilitator ICH-UNESCO, Harry WALUYO pernah menjadi Ketua Tim Peneliti Angklung Indonesia 2009 (Representative List, 2010), Tari SAMAN (Urgent Safeguarding List, 2011), Noken; Kerajinan Tangan Papua (Urgent Safeguarding List, 2012), dan Tiga Jenis Tari Tradisi Bali (Representative List, 2015).

Selain buku-buku hasil penelitian tentang nilai budaya 1986-1999 yang diterbitkan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Harry WALUYO juga menulis buku Pegangan Praktis Pencatatan Warisan Budaya Takbenda yang diterbitkan oleh kantor perwakilan UNESCO, Jakarta 2009; Statistik Kebudayaan dan Pariwisata, 2005-2009 yang diterbitkan Pusat Data dan Informasi, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Pengalaman di dunia internasional, Harry WALUYO pernah mengikuti Simposium Warisan Budaya Takbenda di Jakarta, 2009; Pertukaran Informasi tentang Warisan Budaya Takbenda, Indonesia – Viet Nam, 2010; Pengalaman Indonesia dalam Mengelola Warisan Budaya Takbenda di Chengdu, China PDR, 2011; Dari Visi ke Implementasi tentang Warisan Budaya Takbenda, Forum Menteri, ACCF, Hong Kong, China PDR, 2011; Ketua Kelompok Kerja Sama Indonesia – Inggris dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif, 2012-2014; Forum Kota Inovatif, Merancang Kehidupan Masa Depan, Tokyo, Jepang, 2013; Seminar tentang Ekonomi Kreatif, kerja sama dengan WIPO, Jakarta, 2014; Konferensi Internasional Sistem Informasi dan Komputer Tingkat Lanjut (ICACSIS), Jakarta, 2014; Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 menghadapi Tantangan Ekonomi Kreatif Dunia, Pekalongan Kota Kreatif, 2015; Lokakarya dan Rapat Kerja tentang Dokumentasi Video Warisan Budaya Takbenda, Jeonju, Korea Selatan, 2018.