Jadilah kreatif dan inovatif. Harry WALUYO lahir di Jakarta. Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah berhenti belajar agar dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang dinamis. Pendidikan formal ditempuh di Jurusan Antropologi, Universitas Padjadjaran, Bandung (1983) dan Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia (1999). Seorang dosennya di Bandung menasihati, “Sebelum kamu kembali ke kampus (sebagai dosen), carilah pengalaman di luar kampus.” Dia bekerja di instansi pemerintah sebagai tenaga kerja honorer sebelum menjadi tenaga kerja tetap. Dia tidak malu bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman. Kepala Tata Usaha menasihatinya, “Selesai pendidikan seperti seorang pendekar yang baru turun gunung, merasa dirinya serba tahu, padahal banyak hal yang tidak dia ketahui.” Karenanya, dia ditempatkan di bagian administrasi sebelum ditempatkan di bagian teknis yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Pengalaman kerjanya sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1985-2000), Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2001-2002), Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata (2002-2003), Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2003-2004), Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2004-2011), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2012-2014), Badan Ekonomi Kreatif (2015), dan Kementerian Pariwisata (2016-2017). Sebagai aparatur sipil negara, dia pernah ditugaskan sebagai Sekretaris Utama Badan Ekonomi Kreatif (2015). Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan Iptek (2012-2014). Pelaksana Tugas Inspektur Jenderal (2013-2014). Selain itu, dia juga pernah ditugaskan sebagai anggota kelompok kerja pariwisata yang diselenggarakan oleh Sekretariat ASEAN (2005-2009). Dia juga pernah mengikuti pelatihan Manajemen Krisis tentang H5N1 di Viet Nam (2005). Dia termasuk 10 orang pertama di Asia Pasifik yang mengikuti pelatihan tentang Warisan Budaya Takbenda, yang disertifikasi oleh Sekretariat ICH-UNESCO  di Beijing, China (2011). Sejak saat itu dia menjadi Global Network of Facilitators, ICH-UNESCO (Living Heritage) hingga sekarang; Staf Khusus Bidang Pariwisata (2015-2017). Dia juga seorang pengajar matakuliah Etika Pariwisata (2015) dan Pemasaran Pariwisata dan Manajemen Destinasi Pariwisata (2016); Ketua Tim Percepatan Kaldera Toba ke UNESCO Global Geopark (2016-2017) dan Ketua Tourism Crisis Center (2016-2017) di Kementerian Pariwisata. Menjadi Anggota Tim Penilai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2017 hingga sekarang di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Dia telah mengambil Kelas Pemasaran Digital di DUMET School (2017). Ia pernah ditugaskan sebagai pakar Warisan Budaya Takbenda oleh STUPPA Indonesia untuk produksi dokumentasi video warisan budaya takbenda, bekerja sama dengan International Information and Networking Center for Intangible Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region under auspices of ICH-UNESCO, Republik Korea ( 2018-2019). Ia berhasil menominasikan unsur Warisan Budaya Takbenda Nasional dalam Daftar ICH-UNESCO, seperti Angklung Indonesia (Representative List, 2010), Tari Saman (Urgent Safeguarding List, 2011), Noken, Tas Multifungsi Rajutan Kerajinan Tangan Papua (Urgent Safeguarding List, 2012), Tiga Genre Tari Tradisional Bali (Representative List, 2015), Pencak Silat Tradisi (Representative List, 2019). Ia pernah berbicara tentang Pertukaran Informasi tentang Pengelolaan Warisan Budaya Takbenda antara Indonesia dan Vietnam (2010); Pengalaman Indonesia dalam Mengelola Warisan Budaya Takbenda di Chengdu, China PDR (2011); Dari Visi hingga Implementasi Warisan Budaya Takbenda di Forum Menteri, ACCF, Hong Kong, China PDR (2011); Ketua Kerja Sama Indonesia – Inggris di Bidang Ekonomi Kreatif (2012-2014); Forum Perkotaan Inovatif, Merancang Kehidupan Masa Depan, Jepang (2013); Seminar Ekonomi Kreatif, bekerja sama dengan WIPO (2014); International Conference on Computer Information Systems and Advanced, Jakarta (2014); Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menghadapi tantangan Ekonomi Kreatif Dunia (2015); Lokakarya dan Rapat Kerja Dokumentasi Video tentang Warisan Budaya Takbenda, Jeonju, Korea Selatan (2018); Seni Perumahan Vernakular Tahan Bencana: Pengetahuan dan Teknik, Forum Budaya Pasifik, Menuju Berkas Multinasional di Asia Pasifik, Auckland (2019); Dialog tentang ICH-UNESCO dengan komunitas Keris Indonesia dan komunitas Tari Tradisional Bali (2019); Perkembangan Industri Kebudayaan, Industri Kreatif, dan Ekonomi Kreatif menuju Kota Kreatif (2019); Potensi Tari Saman di Masa Depan (2019). Pembicara dalam World Culture Forum (WCF)/ International Forum for the Advancement of Culture (IFAC), 2019; Lokakarya Ahli untuk Produksi Video ICH di Asia Tenggara bekerja sama dengan ICHCAP, Korea, di Kuching, Sarawak, Malaysia, 2019; Tenaga Ahli Bidang Pengembangan Usaha Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sejak 2020 sampai dengan sekarang